sebenarnya, ini adalah tugas bahasa indonesia gua.. hehhe..
cast nya nggak tau gua siapa,, bukan artis korea,, tapi cuma kayak orang biasa,,
cast nya nggak tau gua siapa,, bukan artis korea,, tapi cuma kayak orang biasa,,
bagaimana menuruta anda sekalian?? menarik? jelek? atau sesuatu yang sangat tidak dimengerti..
and CTT!! ini dari pikiran gua sendiri,, bukan copas!!
please leave a comment guys~!! :D
“Kriiiiiiing…..”
Akhirnya alarm itupun berbunyi, ku hanya beranjak sedikit mematikannya.
Terasa letih badan ini, lemas dan hanya ingin menyendiri. Sama sekali aku tak bisa tidur malam
ini. Aku selalu terpikir sesuatu yang membuatku sakit, sakit yang teramat
dalam. Hanya menangis sendirian, bersandar pada dinding
kamarku.
Ku mencoba berdiri dari tempat
ku, berajak menuju kaca di kamarku. Ku terpana memandangi wajahku yang kusam,
kumuh, berminyak dan mata yang sembab dan mengecil dengan lingkaran hitam
memenuhinya. Aku hanya terduduk diam sejenak dan berdiri , berjalan menuju
kamar mandi. Sekarang aku ingin bersiap-siap untuk pergi keneraka itu walaupun
sebenarnya sangat tak ingin. Aku mencoba tegar dan menunjukkan pada mereka aku
bukan orang lemah!.
Badan ini begitu letih dan
menolak melakukan apapun, tapi hati ini menyuruh untuk melakukannya. Ku pasang
seragamku, dan menggunakan sedikit bedak menutupi wajahku , dna kini ku bersiap
pergi. Ku merasa aneh, terasa angin yang berhembus ingin menghentikan langkahku,
orang yang berjalan seakan menyuruhku untuk kembali. Tapi apalah dayaku, hati
ku selalu menghimbau untuk tidak menjadi orang lemah.
Ku memasuki gerbang sekolah
yang bagai neraka ini. Selangkah ku masuk, ku berhenti, seakan tidak yakin
dengan keputusanku. Sekali lagi ku berpikir mencoba meyakinkan diriku, selangkah
demi selangkah dan ya, kau sudah sampai di depan ruangan yang begitu ku benci
saat ini. Tampak di hadapanku mereka berkumpul, dan tertawa bersama. Aku benci
melihat situasi. Ku mecoba masuk dan duduk di bangku ku. Ku mencoba menyibukkan
diri dengan membaca buku, ku pikir itulah cara
yang tepat. Sebenarnya ingin ku cari seseorang untuk menemaniku, tapi
sepertinya tidak ada. Ku membaca buku dihadapanku yang sebenarnya sedang tidak
ingin ku baca.
“Apa yang dia lakukakan disini?
Heeehh!!” aku mendengar seseorang berbicara lambat, aku hanya diam mencoba
tegar. Tapi aku sama sekali tak kuat untuk menahan semua perasaan yang ku tahan.
Ku merasakan air mata ku sudah berlinang bersiap untuk membasahi pipiku lagi
dan lagi. Ku masih saja mencoba untuk bertahan, tapi semua sia-sia, akhirnya ia
jatuh membasahi buku tak bersalah dihadapanku. Aku sangat malu untuk
menumpahkan air mata disini, ku berdiri, dan berjalan keluar. Ku pergi ke kamar
mandi segera, ku masuk ke salah satu ruangan dan menangis disana dengan suara
tertahan, akan lebih sangat malu bila seisi sekolah mengetahui aku menangis
seperti bayi disini.
“Ada orang di dalam?”
sepertinya seseorang mendengar isakan ku, aku mncoba tenang dan berhenti
menangis. Ku menghidupkan kran di dalam dan mengahapus air mata dari wajahku,
menghilangkan jejak. Baiklah kini ku ingin tegar dan mencoba untuk tak menangis
lagi karna hal ini.
“Yuna-ya~” seseorang
memanggilnya dari belakang saat ia baru saja keluar dari kamar mandi. Yuna
menoleh kebelakang dan memeberikan sedikit senyum simpul padanya.
“Waeyo? (kenapa?), apa
kau menangis?” tanyanya penasaran, dan memegang mata Yuna yang membengkak.
“A..aniyeyo! (tidak!)” Yuna hanya bisa mengelak dan menundukkan
kepalanya dan berjalan menuju kelas dengan debaran jantung yang begitu kencang.
Tampak Yuna ragu-ragu untuk memasuki ruangan itu lagi.
“ayo masuk!” ajak Juin yang
heran melihat Yuna yang hanya menekuk kepala dari tadi dan wajah yang beitu
cemas. Yuna akhirnya masuk dengan masih menunduk, langsung ia duduk dan Juin
duduk di sebelahnya. Juin hanya memperhatikan Yuna dengan tampang heran, ia
mencoba menebak apa yang terjadi. Dan Juin mulai berpikir, ia melihat pada
segerombolan yang biasanya ada Yuna disana. Ia mulai mengerti dengan yang
terjadi dna mengangguk paham. Juin tak ingin ikut campur dengan yang terjadi
saat ini, ia hanya ingin untuk mnyaksikan dulu sampai Yuna menceritakan apa
yang terjadi sebenarnya.
Saat waktu istirahat datang,
Yuna hanya berdiam di kelas dengan buku bacaan untuk menyibukkan diri. Juin
yang melihat Yuna mencoba menemaninya, ia mengerti bagaimana perasaannya saat
ini.
“Apa kau tidak ingin makan?”
Tanya Juin menghampiri meja Yuna.
“aniya!” Jawab Yuna
dengan senyuman. Juin duduk di sebelah Yuna menghadap padanya.
“Yuna-ya!” Juin menatap
Yuna penasaran.
“Mwoya? (apa?)” Yuna tetap
sibuk dengan bukunya.
“Eum.. mwohalgo-iseosseoyo?(apa
yang sudah terjadi?)” Yuna terdiam seperti tersentak mendengar pertanyaan Juin.
Ia melihat Juin ragu, dan menutup bukunya.
“Museun
maliyeyo?(apa maksudmu?)” Tanya Yuna balik dengan tampang sedih.
“Dwesseoyo!(lupakan
saja!)” urung niat Juin untuk bertanya lebih lanjut melihat wajah
Yuna yang terlihat sedih. Yuna kembali dengan bukunya lagi sedangkan Juin
mencoba tenang dengan memainkan ponselnya.
“Teng teng teng” bel pulang pun
berbunyi, sekarang sudah jam 5 sore di Korea dan semua murid-murid bersiap-siap
untung menuju rumah mereka beristirahat. Juin dan Yuna tampak juga bersiap-siap
pulang bersama.
“Yuna-ya,, katchi jipe
doragayo! (yuna, ayo pulang bersama!)” Yuna mengangguk dengan senyuman, saat mereka akan keluar dari kelas,
tiba-tiba...
“Juin-ah, kau mau ikut
dengan kami?” teriak seorang gadis yang tidak salah adalah Hyera yang dahulunya
adalah teman yang sangat dekat dengan Yuna.
“ayolah Juin-ah!” ajak seorang lagi yaitu Minra yang dulunya
juga sangat dekat dengan Yuna. Juin berpikir, kenapa mereka mengajaknya? Padahal
mereka selama ini tidak begitu akrab, dan Juin hanya akrab dengan Yuna yang
memang suka berteman dengan siapa saja.
Juin terlihat ragu dan takut,
apa yang harus dia perbuat dengan situasi seperti ini? Ia mencoba memikirkan
apa yang harus dilakukannya. Ia ingin ikut dengan Hyera untuk mencari tahu apa
penyebab pertengkaran mereka ini. Tapi, ia juga tidak ingin meninggalkan Yuna
bersedih sendirian.
Baiklah, ia memilih untul
mengikuti Hyera karena sekarang Yuna tak ingin bercerita padanya tentang
masalahnya.
“Yuna-ya,
mianhaeyo. (yuna, maafkan aku.)” Juin hanya bisa meminta maaf
saatini. Ini memang sangat membuat kecewa Yuna. Terlihat Yuna pasrah kalau Juin
juga harus ikut dengan Hyera.
Juin pergi pada sisi Hyera dan
pergi bersama, terlihat yang lain hanya melihat Yuna sinis. Yuna hanya menunduk
dan juga pergi setelah merka pergi. Yuna berjalan sendirian, orang-orang yang
melihatnya seperti bertanya, “kenapa ia sendirian?” “tumben dia sendiri?” dan
bla bla bla... Yuna sangat kecewa dengan apa yang di lakukan Juin, dan ia juga
mulai berpikir, Juin juga bukan teman yang baik. Air mata Yuna mulai berlinang
lagi dan lagi.
Jauh yuna berjalan, tiba-tiba
ada suara yang memanggil namanya. Seperti suara pria. Suara itu mendekat dan
menghampirinya dan sekarang di hadapannya. Yuna terlihat seperti menghindar
dari pria itu dan berjalan cepat menjauh. Pria itu mencoba menahan Yuna.
Disisi lain. Di sebuah kaffe
yang biasa dikukunjungi anak-anak sekolah. Mereka berkumpul dan makan bersama
menghilangkan rasa penat. Juin yang tak terbiasa dengan mereka hanya bisa
mengikuti apapun yang dilakukan dan mendengarkan apa yang mereke bicarakan.
“Kenapa kau mengikutinya?”
tanya Hyera pada Juin. Juin terlihat ragu untuk menjawab.
“A.. aku hanya.. “ Juin bingung
untuk menjawab apa dan mencoba mengalihkan pembicaraan mereka dengan meminum
minuman di depannya.
“Kenapa? Apa kau tidak tau apa
yang terjadi?” Tanya Hyera lagi. Mendengar itu Juin mempunyai kesempatan untuk
bertanya apa yang terjadi sebenarnya.
“Molla! (Aku tidak
tahu) ” Jawab Juin yang mulai serius.
“Apa yang terjadi sebenarnya?”
sambung Juin ingin tahu.
“Apa kau benar-benar tidak
tahu? Apa dia tidak menceritakan padamu?” tanya Minra tak percaya.
“Baikalah! Apa kau tau dia itu
adalah penghianat?” Jelas Hyera dengan nada marah. Juin mencoba mencerna apa
yang di maksud dengan “penghianat” yang di katakan Hyera tadi. Dan ia sama
sekali tak mengerti.
“Penghianat? Apa maksunya?”
tanya Juin begitu penasaran.
“Sungha. Dia merebutnya” Jelas
Hyera singkat dan jelas. Membuat Juin mulai mengerti yang di maksud dengan kata
“penghianat” tadi.
“Bukankah Sungha yang mengejar
Yuna?” tanya Juin lagi.
“Apa kau mencoba membelanya?”
kata-kata yang keluar dari mulut Minra itu sedikit menyakitkan dan membuat Juin
patah kata.
“A.. aniya!” Jawab Juin
gugup.
“Dia tahu semua tentang apa
yang aku rasakan terhadap Sungha, tapi dia malah mndekatinya dan dia adalah
penghianat yang paling keji!” Jelas Hyera
lagi dengan nada yang begitu marah. Juin hanya mengangguk paham. Tapi ia
masih tidak percaya bahwa Yuna itu penghianat seperti dikatakan mereka tadi.
“Hyera-ya! Kau
lihat itu!” Minra menunjuk keluar jendela. Terlihat Yuna bersama pria itu, Kwon
Sungha yang baru saja dibicarakan mereka tadi. Hyera sangat geram melihat
mereka berdua, matanya terlihat merah dan marah. Juin juga memperhatikan dengan
kekecewaan pada Yuna melihat peristiwa itu.
Di luar sana Yuna dan Sungha
berjalan berdua.
“Aku minta maaf atas kejadian
kemaren itu.” Sungha berkata dengan penyesalan. Yuna hanya menunduk dan terus
berjalan.
“Aku menyukaimu, bukan menyukai
Hyera! Dan kini kau adalah milikku! ” Jelas Sungha menghentikan Yuna dengan
berdiri di depannya. Yuna terhenti dan melihat wajah Sungha sejenak. Ia mencoba
menghindar tapi Sungha selalu saja menghalanginya.
Di dalam kaffe, Hyera, Juin dan
Minra masih memperhatikan gerak-gerik Yuna dan Sungha di luar. Hyera masih saja
panas melihat kejadian itu. Terlihat dari dalam Sungha memegang tangan Yuna,
Hyera langsung beranjak keluar dengan geramnya menuju tempat mereka berdiri.
Juin dan Minra mengikuti dari belakang.
“Kau!” Hyera menunjuk mereka
dengan kasar dan berjalan cepat kearah mereka berdua. Yuna dan Sungha terkejut
dan melepaskan tangan Yuna. Sungha terlihat kesal dengan kejadian ini dan
menggaruk-garuk kepalanya. Yuna hanya tertunduk diam tanpa kata, ia juga tampak
kesal dengan kejadian ini. Juin dan Minra hanya memperhatikan mereka,
orang-orang yang berlalu lalang memperhatikan mereka aneh.
Suasana sejenak terasa diam,
hampa. Mulai terdengar geraman Hyera yang tampak sangat marah.
“MWOHALGOYA!?!(APA YANG
KALIAN LAKUKAN!?!)” Hyera berteriak di depan kaffe tersebut. Mereka semua
hanya diam.
“Nappeun yeo! (wanita
jalang!)” Hyera melihat Yuna saat mengatakan itu, dan itu membuat Yuna
melihat Hyera dengan marah.
“Mwo!?(apa!?)” Jawab
Yuna lambat dan menyeramkan. Sungha terlihat bingung harus melakukan apa dengan
situasi seperti ini. Juin dan Minra juga sudah ketakutan.
“Penghianat!” Kata-kata yang
keluar dari mulut Hyera begitu menyeramkan dan membuat siapa saja yang
mendengar pasti marah.
“Mwoya ige? (apa ini?)”
Tanya Yuna lagi dengan pandangan kasar pada Hyera. Kata-kata inilah yang
selalau membuat Yuna menangis dan juga marah. Kata-kata yang begitu
mencabik-cabik dadanya. Apa lagi itu keluar dari mulut teman dekatnya sendiri.
“Ya! Apa yang kalian
lakukan disini?” Sungha mencoba mencairkan suasana yang begitu menegangkan saat
ini.
“Sikkeuro! (diam!)” Balas
Hyera kasar pada Sungha yang membuat Sungha terkejut dan terlihat takut. Ia
hanya menelan ludah dengan susahnya. Dan mencoba diam.
“Apa kau tidak pernah berpikir?
Dan mendengarkan kata-kata orang, ha?” Yuna mulai berbicara dalam ketegangan
ini.
“Apa kau tau apa yang kau
katakan itu, ha? Apa kau tahu apa yang ku rasakan, ha?” Tambah Yuna lagi. Mulai
terlihat di pelupuk matanya terkumpul air mata, dengan hidung dan matanya mulai
memerah. Hyera yang masih saja geram hanya mendengarkan ucapan itu.
“Apa? Kau itu penghianat! Dan
itulah kau!” Kasar Hyera pada Yuna lagi.
“Kau itu bukanlah teman! Kau
itu egois!” Jawab Yuna masih menahan amarahnya.
“Ya!!!” Hyera berjalan
kearah Yuna dengan tangan ingin memukul Yuna. Minra dan Juin langsung sigap
menahan Hyera. Yuna hanya berdiri diam melihat. Sungha juga langsung sigap
untuk melindungi Yuna dari serangan Hyera.
“Kau!! Cobalah kau mengerti! Jangan
kau menuruti ke egoisanmu!” Sungha mencoba melerai mereka dengan membela Yuna.
“Aku lebih dulu menyukai Yuna dari pada kau menyukaiku!”
jelas Sungha. Dan membuat Hyera makin marah. Dan tetap di tahan oleh Minra dan
Juin.
“Maafkan aku, karna aku kalian
menjadi seperti ini.” Sungha sebenarnya tahu bahwa ialah penyebab pertengkaran
ini, dan ia hanya bisa minta maaf.
“Dan sebenarnya Yuna tidak mau
dengan ku karna memikirkanmu! Tapi aku terus memaksanya!” Sungha mulai
menjelaskan kejadian sebenarnya. Sungha menarik Yuna tepat kesebelahnya.
“Dan juga kami telah saling
menyukai sebelum kami mengenalmu!” jelas Sungha lagi dan membuat Hyera mulai tampak
tenang dan merasa bersalah. Minra dan Juin mulai melepasnya.
“jinjja? (benarkah?)” suara
Hyera mulai tenang dan malu atas keegoisannya selama ini. Sungha hanya melihat
Yuna masih menundukkan kepala, dan sudah mulai tenang.
Dan kini Yuna mulai beranjak
berjalan menjauh dari mereka, Sungha mengikutinya dari belakang dan berjalan
bersama. Secara tidak langsung dengan menyaksikan kejadian ini,
pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepala Juin telah terjawab semua. Dan yang
menjadi masalah sebenarnya adalah Sungha. Dan sebenarnya Pria itu adalah salah
satu masalah dalam persahabatan jika mereka tak saling jujur. Dalam apapun
situasinya, jika kita tidak saling jujur
satu sama lain, semuanya akan berakhir seperti ini.
Keesokkan harinya. Seperti
biasa, Yuna memasuki ruang kelas dan duduk di bangkunya. Ia masih mencoba
menyibukkan diri seperti biasa.
“Yuna-ya~!” seseorang
memanggil Yuna dan itu adalah Hyera dan Minra. Yuna melihat Hyera dengan seikat
bunga mawar putih di tanganya. Hyera menyodorkan pada Yuna sebagai tanda minta
maaf. Yuna menerimanya dengan senang hati, Juin yang duduk di sebelah Yuna tersenyum
senang melihat mereka akrab kembali.
“Yuna-ya~!” panggil
seseorang lagi, dan itu adalah kekasih Yuna saat ini, Sungha.
“Ayo kita ke kantin! Aku yang
traktir!” Ajak Sungha sebagai tanda kedamaian ini.
“Ayo. Aku juga lapar sekarang!”
Jawab Hyeri mengiyakan. Sungha melirik Yuna tersenyum, dan Yuna membalas
senyuman itu dengan sangat manis. Hyera dan Minra sudah dulu jalan keluar,
Sungha menunggu Yuna untuk jalan bersama. Yuna melirik Juin mengajaknnya juga.
“Juin-ah~! Kajja! (Juin. Ayo
pergi!)” Ajak Yuna pada Juin. Juin mengiyakan. Semuanya sudah kembali
seperti semula, dan sekarang kejujuranlah yang mereka junjung tinggi agar
kejadian yang sudah-sudah tidak terjadi lagi.
__THE END__
0 comments:
Post a Comment